HMI Meradang Di Perbatasan Indonesia

Sudah menjadi hal biasa ketika ruang media dihiasi berita tentang raibnya pulau-pulau kecil dan terluar indonesia, atau munculnya pengakuan kepemilikan lagu-lagu daerah khas indonesia, bahkan angklung yang sebentar lagi menjadi milik malasysia.

Jika sebuah lembaga internasional seperti UNESCO kelak memenuhi keinginan Malaysia untuk melegalkan angklung sebagai budaya ciptaan Malaysia, maka tidak berlebihan kalau bisa dikatakan Indonesia atau INDON kata orang Malaysia sesungguhnya telah terjajah perlahan-lahan oleh arogansi sebuah negara kecil yang boleh dikatakan cuma seukuran PANU pada tubuh kerbau. Tapi ini realitas, Dimana konsekwensi hidup bertetangga dalam bingkai sebuah bangsa akan pasang surut dalam tarikan konflik kepentingan batas-batas wilayah, budaya, bahkan mungkin hasil karya seni. Memang bangsa kita terlalu luas dan terlampau besar untuk bisa menjaga tiap jengkal tanahnya dari penjarahan politik atas nama klaim kepemilikan wilayah. Batas-batas negara meskipun telah diatur, tetap saja memiliki kemungkinan untuk dicaplok oleh negeri tetangga kita. Pemerintah sesungguhnya kewalahan dan tidak berdaya dengan situasi ini. Pemerintah kita tidak mau jujur kalau kita negara besar seperti gajah tapi dikibulin oleh negeri malaysia yang kecilnya seperti semut. Kita bahkan terkadang menahan diri karena takut berhadapan dengan malaysia yang notabene negara satelit Inggris. Lantas mestikah kita terpaku, meradang takdir tanpa kemudian berbuat?, ini sesungguhnya bukan soal sederhana. Mempertanyakan nasionalisme lagi-lagi akan jadi kata kunci pembicaraan kita jika wacana pergumulan kita menyentuh ranah kepentingan nasional. Tapi apakah nasionalisme bisa dilahirkan dari berharap dan berkhayal. Tentu tidak mungkin. Tiap detik penantian dan sikap menunggu adalah sebuah kekalahan. HMI mungkin bagi sebagian orang akan dibilang nekat atau mungkin lattah, tapi masa bodoh, bagi HMI berbuat untuk bangsa tidak perlu diberi tepuk tangan, tapi cukup kami puas karena sudah berbuat. Untuk melengkapi kepuasan itu tidak tanggung-tanggung pada bulan 28 November 2007 hingga 5 Februari 2008 HMI akan melakukan serangkaian misi kampanye kebangsaan ditiga daerah perbatasan terrawan dan satu wilayah pascah konflik. Tujuannya sederhana, yaitu sebelum nasionalisme saudara-saudara kita diperbatasan terbeli oleh negeri tetangga dan tergadaikan oleh frustasi pembangunan yang pilih kasih, maka HMI memilih kebijakan ini. Adalah sebuah kenyataan bahwa hampir semua warga negara indonesia yang tinggal diperbatasan memiliki potensi untuk berpaling dari kesadaran nasionalisme palsu yang kita dengungkan saat ini. Nsionalisme Non sen kalau orang diperbatasan tidak tersejahterakan, mana mungkin kita berharap mereka merasa bangga untuk mati demi bangsanya. Memang saat ini pemerintahan SBY tengah sibuk memikirkan modernisasi ALUTSISTA (Peralatan Sistem Pertahanan), bahkan membangun pangkalan militer baru dibeberapa wilayh perbatasan, namun itu saja tidak cukup, karena mempertahankan sebuah bangsa tidak cukup dengan semangat sekelompok tentara atau diplomasi para eksekuti berdasi. Moralitas perlawanan rakyat adalah kunci ketahanan sebuah bangsa. Jika moralitas ini tidak ditopang dengan penguatan nasionalisme dalam bingkai kesejateaan dan pemenuhan hak-hak rakyat, jangan bermimpi kalau bangsa ini akan baik-baik saja. Dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang kita terancam menjadi negara Federal atau mungkin terpecah seperti kasus Yugoslavia yang tinggal sejarah. Langkah HMI membangun jaringan kebangsaan dan melakukan penguatan nasionalisme di wilayah perbatasan mungkin bukan solusi seutuhnya, namun jika gerakan ini dibingkai dengan harapan dan semua anak bangsa mau berbuat semampunya untuk bangsa, pasti kita akan tetap menjadi bangsa yang cerita sejarahnya penuh dengan kemegahan dan kebanggaan. Anda dan kami tentu tidak mau dicap sebagai orang yang sial dan tumbuh di dalam sebuah bangsa yang bebal bukan?………Semoga Jailani Ahmad Badjo Infokom PBHMI

Tinggalkan Balasan