JAiLANI,
KETUA MEDIA INFOKOM PBHMI
Hadirnya polemik seputar pernyataan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar terkait sikap menteri partai politik yang tidak konsisten atau “Sontoloyo” dalam bahasa Syamsir menunjukan bahwa kabinet SBY yang lahir dari koalisi Parpol tidak permanen dan sangat rapuh. Bahkan Menggerogoti sang Presiden.
Disisi lain fakta adanya kerancuan intrepetasi atas peran dan fungsi Badan Intelijen Negara oleh kepala BIN, telah menimbulkan fakta baru bahwa politik dan pemerintahan di negara ini benar-benar “Amburadul”.
Dalam menyimak fenomena yang bisa dikatakan “anomali” dalam logika politik kenegaraan”, setidaknya ada dua persoalan mendasar yang mengemuka dalam polemik yang muncul terkait lolosnya gagasan hak angket di DPR. Pertama, lemahnya kabinet Indonesia Bersatu pemerintahan SBY. Kabinet presiden SBY adalah kabinet yang lahir dari kompromi politik semata tanpa didasari akad dukungan politik secara kelembagaan. Akibatnya para menteri yang berasal dari partai politik cenderung menjadi semacam “penyusup” didalam kabinet. Pemerintahan yang sedang berjalan sesungguhnya semacam sebuah sistem yang disusupi orang-orang yang sewaktu-waktu jika arah politik bergeser dapat menjadi lawan terhadap kekuasaan dari dalam sistem kabinet sendiri. Terkait dengan situasi ini banyak pakar politik dan pengamat yang telah sejak awal mengkritisi fenomena koalisi dan opisisi yang serba tidak permanen ini.
Dalam logika sistem politik yang kita kenal, telah dipahami bahwa didunia ini orang mengenal sistem pemisahan kekuasaan dan pembagian kekuasaan dalam mengatur pengelolaan negera. Untuk Indonesia Kita tidak tegas memilih salah satu di antaranya, bahkan rancu dalam mengawinkan keduanya. Oleh karena itu fakta tidak solidnya kabinet SBY akibat inkonsistensi sikap dan gejala komitmen yang mendua karena mengelola negara dengan gaya pengelolaan partai politik, maka wajar jika SBY seperti dipermainkan oleh dukungan semu para menteri asal parpol.
Yang kedua, Kepala BIN keliru dalam memposisikan peran dan fungsi BIN kalau ini tidak ingin dikatakan sebuah kesengajaan. Sebagai lembaga negara yang berperan memberikan early warning terhadap keselamatan negara dan melindungi kepentingan nasional, semestinya BIN hanya memiliki satu USER yakni negara. BIN tidak tepat terlalu jauh masuk ke dalam ranah politik praktis. Adanya pernyataan Kepala BIN terkait sikap Menteri Asal Parpol yang dianggap ” Sontoloyo” telah menimbulkan intrepretasi bahwa BIN sebagai lembaga negara terlalu jauh masuk kedalam politik praktis.
Sebagai sebuah pernyataan yang lahir dari indvidu pernyataan Syamsir Siregar sesungguhnya adalah sebuah statment yang wajar, karena sikap partai politik yang tidak konsisten dalam berkomitmen patut dipertanyakan, buka hanya Kepala BIN orang awam pun menjadi “gregetan” dengan prilaku menteri Parpol yang mbalelo terhadap Presiden. Akan tetapi problemnya Syamsir saat ini adalah seorang Kepala Badan Intelijen Negara. Sebab kami meyakini bahwa statement itu lahir dari simpati seorang syamsir terhadap sang presiden yang memang memiliki kedekatan secara emosional dengan Presiden SBY. Jadi dapat dikatakan bahwa Syamsir Siregar lepas kontrol dengan ucapannya, pada saat yang sama ucapan dia tidak dibenarkan oleh karena posisinya saat ini.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized